Posts Tagged ‘gothic’
THE JAKARTA POST, 8 June 2008
Anya Rompas: A pretty poet with a dark side
Prodita Sabarini , The Jakarta Post , Jakarta | Sun, 06/08/2008 10:06 AM | People

ANYA ROMPAS: (JP/Ricky Yudhistira)
“I haunt myself,” she said. And then she laughed, trying to reduce the intensity of her words. I smiled.
She does that. She slips laughter in at the end of her sentences, especially the ones where she describes herself.
“I’m shy about my work.” She laughed again.
Amid the loud chatter of people, the clinking of cutlery and cheesy pop music blaring in a pseudo-French-named caf* in one of Jakarta’s malls, poet Gratiagusti Chananya Rompas flicked her cigarette on an ashtray.
The 27-year-old talks fast but still manages to choose her words carefully. We talked about her poems, which she says are the results of candid observation of herself, thus the reflection: I haunt myself.
“I use my writing to know myself better,” she said. “If I stop doing my work, I lose most of my personality,” she said. “If I don’t write, I lose a way of expressing myself,” she said.
Anya is one of the pioneering artists who use the Internet to publish literary works, triggering the movement dubbed cyber literature.
In 2000, while studying English literature at the University of Indonesia (UI) she set up a mailing list called Bunga Matahari (Sunflower) for people to submit and share their poems. Eight years later, the mailing list has around 1,600 members. She has produced an anthology of poetry titled “Antologi Bunga Matahari” (2006) and the site has evolved into a community with regular gatherings for poetry readings.

ANYA THE POET: (JP/Ricky Yudhistira)
Now, people from many different professional backgrounds publish their works on the mailing list and on their personal blogs. Anya posts her poems at: www.violet.multiply.com.
Other cyber communities that focus on literature have also emerged, such as Cybersastra, Fordisastra, and Sastra Pembebasan.
Wearing a white singlet topped with a pink tank top and a cute, long button necklace, Anya easily falls into the archetypal image of a sweet young fashionable girl. She generously smiles and laughs. However, looks can deceive.
“My friends say that my poems are dark and depressing. I actually like things that are dark and mysterious. I grew up liking stories about Dracula and vampires,” she said.
Her interest took her to study Gothic literature for her master’s degree in the UK.
“I don’t consider my poems as gothic, though, I am reluctant to classify my work into one genre,” she said.
“I prefer people to have their own interpretation of my poems,”
That is why she is fascinated with the Internet, as it offers space for people to immediately give feedback.

RESERVED: (JP/Ricky Yudhistira)
“In cyberspace, there’s also a kind of dialogue. My friends and I visit each other’s blog, and if there’s a poem that touches me, I can write a reply poem and others can do it too, and when we read it, it becomes a piece of art by itself,” she said.
She said that poetry published in cyberspace was as real as poetry published in print media. The difference lies only in technicalities as in print media there are gatekeepers before a work goes to print.
Despite her love of anarchic cyberspace, Anya, along with her friends, is also venturing into print media. She is currently setting up a publishing company called IrisPustaka. The Company’s debut book will be Anya’s anthology of poetry titled “Kota ini Kembang Api” (The City is Fireworks).
“We target finishing printing next month,” she said. Besides her book, IrisPustaka will also publish a children’s book, a collection of short stories and a collection of poems in English.
“As I writer I want to explore all kinds of media,” she said.
COSMOPOLITAN, January 2008
HERS
diambil dari artikel berjudul “Cintaku Pada Dunia Lain“
| Cintaku Pada Dunia Lain |
Cintaku Pada Dunia Lain
Obsesi pada cerita-cerita horor membuatnya mantap menjatuhkan pilihan S2 pada jurusan yang tidak biasa yakni sastra Gothic
Namaku Gratiagusti Chananya Rompas. Tapi orang-orang di sekitarku memanggilku Anya. Usiaku 27 tahun.Setelah meraih gelar sarjana pada program studi sastra Inggris di fakultas ilmu pengetahuan budaya Universitas Indonesia di tahun 2002, aku tertarik untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 di luar negeri. Saat melakukan riset di internet, aku mengambil kata kunci puisi. Memang sejak kecil aku tergila-gila akan puisi dan sastra serta berniat melanjutkan program pascasarjana di bidang ini. Dari kata kunci tersebut, muncul beberapa deretan Universitas yang salah satunya adalah University of Stirling di Skotlandia,Inggris. Yang mengejutkan ketika masuk ke dalam situs Universitas ini, selain menemukan program puisi,aku juga menemukan kajian ilmu yang sangat spesifik, yaitu sastra gothic.
Aku kaget bercampur senang. Pasalnya dari kecil aku memang terobsesi dengan cerita yang beraliran dark dan punya aroma mistis. Seperti kisah monster atau drakula. Karena kebetulan pendaftaran ke Universitas itu memperbolehkan aku memilih dua kajian ilmu, aku langsung memasukkan program studi puisi dan sastra gothic sebagai pilihanku.
Mungkin karena sudah berjodoh dengan jurusan ini, tiba-tiba saja di tahun 2004( tahun aku akan masuk), aku mendapat kabar program puisi ditiadakan. Walau begitu, toh aku tetap happy, karena lamaranku untuk melanjutkan studi sastra gothic diterima. Saat itu juga sebenarnya aku juga diterima di Universitas lain di program studi sastra inggris. Tapi aku sudah tak bisa pindah ke lain hati. Hatiku mantap membisikkan sastra gothic adalah masa depanku.
Karena sejak kecil, aku memang sudah ‘nyeleneh’ dibandingkan kedua kakak yang kebetulan meneruskan ke kajian ilmu yang umum, orang tuaku nampaknya sudah kebal dan mengerti pilihanku. Padahal mungkin di mata orang banyak, pilihanku terlihat ajaib. Kok jauh-jauh sekolah ke luar negeri memilih jurusan yang tak biasa. Tapi itulah aku. Walau ribuan orang mempertanyakan, kalau hatiku sudah mantap, aku tak peduli. Aku akan tetap melangkah meraih mimpiku.
Support orang tua juga kuraih. Mungkin mereka sudah beradaptasi dan mengerti sekali karakter putrinya yang bernafas di bidang sastra. Sejak usia belasan aku memang sudah aktif membuat puisi, bahkan merintis lahirnya sebuah komunitas puisi yang bernama Bunga Matahari. Istilahnya orang tuaku dari yang geleng-geleng kepala dengan aktivitasku, lama-lama jadi mangguk-mangguk dan menerima saja. Hanya saja sebelum berangkat ke Skotlandia, bapak hanya mengingatkan aku untuk serius dan menekuni pilihanku secara konsisten.
Makin ‘klop’ dengan Sastra Gelap
Walau kebudayaan gothic yang berkembang sejak awal tahun 1700-an sangat luas, dari arsitektur, musik, fashion hingga sastra, aku hanya khusus menekuni di bagian sastra saja. Yang lain, memang sempat dibahas tapi hanya garis besarnya. Awal-awal kuliah, penekanan ilmu memang di bagian sejarahnya. Dimana karya sastra ini pertama lahir dari buah pikiran Horace Walpole, yang menulis buku Castle Of Otranto.
Aku pun merasa makin ‘klop’ dengan sastra gelap dan banyak bicara tentang hubungan darah dan pertentangan di agama dan masyarakat ini. Apalagi menurutku, waktu belajarnya sangat singkat. Hanya setahun, tapi pembahasannya dalam dan padat. Kajian ilmunya memang lahir dari masyarakat yang menghargai sejarah. Walau tidak bisa dibilang jurusan yang populer ( teman satu angkatanku hanya lima orang), sastra gothic mempunya posisi yang penting di kesusastraan Inggris. Buktinya sampai sekarang kegiatan akademis yang berkaitan dengan sastra ini masih aktif dilakukan.
Aku juga menganggap perjalanan sastra ini cukup unik. Mengingat awalnya sastra ini dianggap sebagai sastra ’sampah’ karena penikmatnya dianggap manusia abnormal dan irasional. Yang mengidolai kekuatan supranatural dan berbau mistis. Ujung-ujungnya, wanita lah yang dituding sebagai obyeknya. Karena irasional lahir dari sisi emosi, yang memang akrab dengan dunia wanita.
Aku benar-benar menikmati mata kuliahku, terutama bagian film. Secara umum film menggunakan unsur-unsur horor dan teror lewar elemen supranatural atau misteri sebagai alat-alat estetiknya. Menurutku cara ini, super cool. Aku juga senang karena kajian ilmu ini membuat pikiranku berkembang dan menemukan sudut-sudut pandang baru.
Yang awalnya aku nilai sebagai karya non gothic, seperti buku sastra The God of Small Things atau film Fight Club, ternyata bisa dinilai dari kacamata gothic. Nggak bisa dipungkiri kebudayaan gothic mengalami perluasan. Yang awalnya hanya mengambil setting kastil gelap dan tema yang bertentangan dengan agama atau nilai dalam masyarakat meluas hingga karakter manusia yang umumnya abu-abu. Tak hanya hitam dan putih. Dan menurut saya, ajaran ini realistis sekali.
Walau mengambil jurusan ini, jangan mengira aku adalah pelahap busana gelap lengkap dengan bibir yang dicat warna hitam. Penampilanku sama saja dengan anak muda kebanyakan. Suka memakai celana jeans dan berbusana warna cerah. Bahkan dari kelima teman kuliahku hanya dua orang yang hobi berkostum hitam-hitam. Jiwa gothic memang hanya di hati, bukan di pakaian kami. Untuk musik pun aku sesekali juga berburu wawasan di internet seperti masuk ke situs teen gothic. Tapi yang selalu aku update perkembangannya ya perkumpulan akademisi sastra gothic. Namanya sendiri adalah International Gothic Association.
Sempat Mengalami Pengalaman Salah Satu Tokoh Gothic
Dengan ’melahap’ ilmu sastra gothic, bukan berarti aku tergolong orang yang klenik. Menurutku, salah besar anggapan belajar sastra gothic, sama dengan belajar aliran mistis. Walau begitu aku harus akui, sempat juga sih merasakan pengalaman otentik menjadi salah satu tokoh gothic yang bukunya sering aku baca.
Ceritanya begini, di musim dingin 2004, semua flatmate pulang ke negaranya masing-masing. Alhasil aku sendirian di rumah. Saat itu aku sedang mengerjakan esai yang bahannya adalah Dracula, baik versi novel Bram Stoker dan film Francis Coppola. Waktu itu, hari sudah sangat gelap dan angin bertiup kencang menyebabkan rumah kayu yang aku tinggali seakan hidup. Awalnya aku tak merasa terganggu. Aku kan sudah kenyang melahap puluhan novel dan dan film hantu, otomatis harus lebih kebal. Tapi lama kelamaan dinding, pintu dan daun jendela di seluruh bagian rumah berderak-derak dalam irama yang membuat jantung sekaligus imajinasiku berdetak tak keruan.
Anehnya, tak lama kemudian aku mendengar bunyi bel. Aku sempat ragu untuk pergi ke pintu, tapi bel berbunyi dan berbunyi lagi. Akhirnya aku keluar kamar, melintasi koridor yang remang-remang dan membuka pintu. Angin dingin yang membuat pohon berayun liar segera menerpa wajahku. Derak-derak kayu rumah kini bergabung dengan suara angin, ranting dan dedaunan di luar membuat suara melolong yang pilu. Badanku menjadi sedingin es menemukan tak ada seorang pun di teras. Walaupun kejadian ini bisa diterangkan secara rasional, malam itu aku merasakan sensasi menggigit yang luar biasa dan sulit diterjemahkan dalam kata-kata. ” I just know that in that moment something that out of this world has passed by.”
Kini aku sudah pulang ke Jakarta. Tak ada setitik pun penyesalan karena aku tak bisa melanjutkan karier sesuai pendidikanku. Menurutku lulusan sastra pada umumnya, yang spesifk maupun tidak, bisa menjadi apa saja yang mereka mau di jalur kreatif maupun bidang-bidang humaniora. Aku malah bangga dengan gelar M Litt yang kuraih. Mungkin aku satu-satunya orang di Indonesia yang punya gelar ini.
Untuk jangka panjang mimpiku adalah melanjutkan penelitian tentang film horor kontemporer Indonesia. Aku lihat sekarang film horor kembali populer. Keinginan akhirku adalah mengembangkan disertasi ke dalam bentuk buku. Kalau sekarang ini,selain menjadi freelance pengajar bahasa Inggris sekaligus menerima terjemahan buku, aku juga sedang sibuk menyiapkan buku kumpulan puisiku, yang niatnya akan aku terbitkan. Untuk puisinya sendiri, aku istirahatkan dari sisi gothic-ku. Lebih yang membumi saja, jadi biar penikmatnya lebih massal.
Teks : Marjorie Firma
FEMINA, 28 April – 2 Mei 2007
MATABACA, February 2007
SPICE!, 21 May – 4 June 2006
In Love Darkly: Membaca Cinta lewat Sensasi Gothic dalam Kumpulan Cerpen Kurnia Effendi “Bercinta di Bawah Bulan”
Setelah membaca kumpulan cerpen Bercinta di bawah Bulan karya Kurnia Effendi (Kef), saya menemukan sesuatu yang menarik selain kemampuannya berbahasa yang sungguh memikat: kisah-kisahnya ternyata bukan tentang cinta yang manis dan riang; kisah-kisahnya lebih merupakan sebuah perjalanan gelap yang seringkali tak kunjung sampai. Memang cinta tak selalu berbunga-bunga, dan Kef memilih untuk menyajikan cinta yang getir, terbalut keadaan yang serba mengungkung. Hal ini didukung oleh daya tarik lain, yaitu kejutan-kejutan yang dengan piawai dihadirkan Kef di sana-sini, meninggalkan gaung panjang yang meresahkan. Teknik naratif semacam ini memaksa saya berkelana ke Inggris di abad 19, ketika sensation novel atau novel sensasi, sebuah subgenre dari induknya yang dinamakan sastra Gothic, menjadi begitu populer. Gothic dan sensasi memang sangat erat hubungannya karena keduanya menawarkan misteri dan ketegangan yang berujung pada pengalaman baca yang intens. Sensasi yang demikian saya rasakan dalam kisah-kisah Kef dan nuansa kegelapan yang ada di sana jelas dihembuskan dengan meminjam sejumlah perangkat gothic, menghasilkan getaran yang tertinggal lama.
Namun, sebelum kita melangkah lebih jauh ke dalam ulasan ini, ada baiknya kita bicarakan dulu apa sebenarnya sastra Gothic selain apa yang selintas sudah disebutkan di atas. Diawali oleh The Castle of Otranto: A Gothic Story oleh Horace Walpole tahun 1764, genre ini menggunakan elemen-elemen standar seperti kastil tua dengan ruang-ruang rahasia, lorong-lorong gelap dan anak tangga berulir seolah tak berujung sebagai latar kejadian-kejadian fantastis dan supernatural, penokohan stereotip yang meletakkan perempuan dalam posisi menderita di bawah tekanan laki-laki yang tiran, perjalanan cinta yang berliku-liku serta penuh rintangan, dan merangkai kesemuanya dalam cerita yang diwarnai ketakutan dan suspens. Unsur-unsur dasar ini kemudian dieksplorasi lebih jauh dalam karya-karya selanjutnya hingga sekarang istilah Gothic telah menjadi sesuatu yang hibrid, bahkan tak jarang pula problematik: tak hanya mencakup kisah-kisah hantu atau makhluk supernatural lainnya, ia juga meliputi karya-karya mengenai masa lalu yang menghantui masa kini, obsesi, persoalan psikologis, tabu, berbagai bentuk tekanan dan pertentangan sistem nilai dalam masyarakat yang seringkali dengan begitu kompleks menggunakan tradisi Gothic sebagai metafornya. Maka tak mengherankan jika genre yang bermula hampir tiga abad lalu ini begitu subur dan dapat dideteksi lewat beraneka topik—dari cinta sampai kisah detektif—dalam begitu banyak karya penulis besar—dari Bram Stoker ke Edgar Allan Poe, Ann Radcliffe ke Angela Carter, juga Thomas Harris dan Chuck Palahniuk.
Selain itu, perkembangan wacana yang lahir dalam konteks Eropa ini telah menjadikannya begitu universal sehingga memungkinkan penerapan yang produktif pada karya-karya Asia, termasuk Indonesia yang selain masih dekat dengan kehidupan supernatural juga lahan yang sarat tekanan dan pertentangan sosial, politik maupun budaya. Walaupun istilah Gothic tidak umum dalam sastra maupun keseniannya, Indonesia sebenarnya mempunyai sederetan karya Gothic yang tergolong baru. Di luar contoh paling mudah seperti maraknya produksi film horror yang kembali menjadi trend sejak dirilisnya Jelangkung beberapa tahun lalu, di bidang sastra kita mulai mengenal Eka Kurniawan dan Intan Paramaditha. Tetapi, tentu saya tak hendak membahas tulisan mereka di sini.
Tadi saya sempat menyinggung juga soal sensation novel. Jenis fiksi ini dianggap sebagai turunan dari Gothic karena ia sebenarnya memang menggunakan teknik yang sama dengan karya-karya Gothic pada umumnya. Oleh karenanya, seringkali para kritik menganggap mereka tak terpisahkan sehingga dikenal pula istilah Gothic sensation. Akan tetapi, yang menjadikan The Woman in White karya Wilkie Collins dan Lady Audley’s Secret karya Mary Elizabeth Braddon, sebagai dua contoh terkenal golongan yang berkembang pada 1860an tersebut, beda adalah latarnya. Novel-novel sensasi tersebut memindahkan peristiwa-peristiwa sensasional, fantastis, nyaris berlebihan dari lingkungan terpencil dan arkaik—yang pada zaman itu pun sudah dianggap jauh dari keseharian pembaca—ke dalam situasi yang familiar, akrab dan sehari-hari: rumah. Jelas hal ini sangat mengagetkan karena Collins, Braddon beserta penulis-penulis novel sensasi lainnya menyuguhkan sebuah kemungkinan yang mengerikan bagi pembacanya, yaitu kemungkinan terganggunya keamanan dan kenyamanan tempat tinggal mereka oleh kegilaan, kekerasan dan segala hal buruk yang tadinya dianggap hanya mungkin terjadi di tempat yang jauh, di masa yang berbeda. Ini memang yang juga menjadi kecemasan mendasar dalam karya-karya Gothic: sebuah keadaan di mana batas antara yang baik dan buruk, yang familiar dan yang mengerikan menjadi kabur. Ketika diramu dengan tema cinta tak sampai, cinta yang ternoda serta modifikasi-modifikasi lainnya, fiksi sensasi menjadi makin sensasional dan mengejutkan. Kombinasi antara rumah, cinta, kegilaan dan kesengsaraan yang mendalam dalam sebuah cerita ternyata menghasilkan hentakan yang meresahkan pada masa itu dan berlanjut sampai sekarang.
Fenomena demikian dapat kita temukan dengan mudah dalam Bercinta di Bawah Bulan. Sebagai latar kisah-kisahnya, Kef menggunakan rumah selain kota di mana keduanya memenuhi konsep lingkungan tempat tinggal yang familiar. Namun, rumah-rumah dalam kumpulan cerita ini tak digambarkan sebagai tempat bernaung yang aman maupun nyaman, terutama secara psikologis. Tokoh utama laki-laki dalam “Aku Mulai Mencintaimu”, misalnya, menganggap pulang sebagai perjalanan yang sarat oleh rasa sepi (hal. 3) karena hubungannya yang dingin dengan sang istri. Sementara itu, rumah bagi tokoh utama perempuan dalam “Romantic Agony” bagai penjara di bawah otoritas ayahnya. Robert Miles dalam Gothic Writing 1750 – 1820: A Genealogy telah mengemukakan bahwa Gothic mengungkap keadaan di mana seseorang merasa tercerabut dari akarnya, menyadari bahwa dirinya tak mempunyai kuasa di dalam rumahnya sendiri (Miles 2002: 3). Ironi semacam ini adalah fondasi yang mendukung terjadinya peristiwa-peristiwa luar biasa dalam kisah-kisah Gothic, seperti dalam kedua karya Kef di atas, ketika tokoh-tokoh di dalamnya merasa perlu untuk mengembalikan kontrol dalam hidup mereka walaupun cara yang dipilih tidak selamanya tepat.
Kemudian, sebagian besar tokoh-tokoh dalam kisah-kisah Kef adalah bagian dari masyarakat urban yang berdomisili di kota besar, seperti Jakarta, Bandung, juga Denpasar. Uniknya, kota di dalam cerita-cerita Kef tak digambarkan secara hingar-bingar apalagi terang benderang. Walaupun “Anggur, Pikiran, dan Cinta” berlatar diskotik—salah satu wilayah yang sering diakrabi penduduk kota—tempat itu lebih diperlihatkan sebagai sebuah area tertutup yang memicu perasaan klaustrophobia. Di samping itu, Kef juga menggunakan kereta lengkap dengan perjalanannya menembus terowongan gelap, sebuah bagian dari keseharian masyarakat kota besar, di “Gerimis Memintaku Kembali ke Rumahmu” di mana sang narator bertemu gadis idaman. Ia juga mengirimkan tokoh-tokohnya bertualang di antara lorong-lorong kota, mengejar (“Sepanjang Braga”) maupun menghapus (“Aku Mulai Mencintaimu”) bayang-bayang masa lalu. Sementara Bali dengan citranya sebagai Pulau Dewata yang magis, indah dan damai justru ditampilkan Kef saat Denpasar terguncang bom (“Kartu Pos dari Jauh”). Kota sebagai tempat tinggal, bahkan tempat berlibur yang begitu terkenal, ternyata tak selamanya menawarkan kenyamanan apalagi keamanan, khususnya bagi dinamika psikis penduduknya.
Situasi latar yang demikian mengantar pembaca pada situasi yang familiar sekaligus memberi sinyal bahwa tempat tersebut ternyata tak berarti steril dari masalah. Kesadaran akan adanya ironi seperti ini membangun nuansa yang mencekam dan memang tepat untuk melatari berbagai kejadian sensasional yang kemudian muncul di dalam cerita. Di dalam ulasan tentang The Failure of the Gothic karya Elizabeth Napier, Miles berpihak pada David Punter yang menunjukkan bahwa tulisan Gothic berurusan dengan keretakan, ketakseimbangan dan celah dalam diri sosial manusia. Gothic mengarahkan perhatian kepada masalah yang mengakibatkan kepribadian juga kehidupan seseorang terbelah-belah (Miles 2002: 1). Masalah psikologis di dalam cerita seperti menemukan resonansinya dalam latar yang jauh dari kondusif bagi tokoh-tokohnya. Latar dan tokoh dalam kisah Gothic lalu menjadi paralel: semuanya saling menunjukkan kerapuhan masing-masing.
Keakraban tempat tinggal yang ternoda kerapuhan melatari hal kedua yang membuat saya merasa Kef memang mengikuti tradisi sensasi Gothic, yaitu tema dan eksplorasinya terhadap permasalahan cinta yang tak berhenti mengganggu ketenangan tokoh-tokohnya. Walaupun beberapa saat lalu saya menyebutkan bahwa Gothic telah menjadi sesuatu yang kompleks dan majemuk, karya-karya Gothic kontemporer sebenarnya dapat dirangkum dengan menggunakan kata-kata kunci excess/akibat dari hal-hal yang berlebihan atau hal-hal berlebihan itu sendiri dan transgression/pelanggaran. Manifestasi excess dapat dideteksi pada kejadian-kejadian fantastis dan sensasional sementara transgression muncul dalam aksi penentangan bahkan pembangkangan, secara disengaja atau tidak, terhadap sistem nilai yang berlaku. Kadang yang satu lebih menonjol daripada yang lain, tetapi seringkali keduanya saling tumpangtindih. Yang jelas, keduanya menyelimuti tema-tema umum genre ini dan memancing perhatian pembacanya kepada beragam pertentangan yang mungkin terjadi di dalam diri seseorang dan lingkungan sosialnya. Lebih jauh lagi, ketika kita bicara ekses dan pelanggaran, kita bicara juga masalah hukuman, pengampunan bahkan keruntuhan nilai dan batasan yang berlaku walaupun kadang kemunculannya eksplisit dalam sebuah cerita, kadang tidak. Bercinta di Bawah Bulan mengadopsi fitur-fitur tersebut, terutama dalam kaitannya dengan wilayah cinta.
Kalau kita membaca seluruh kisah di dalamnya tanpa jeda, kemungkinan besar kita akan sampai pada suatu kesan bahwa kejadian-kejadian yang ada di dalamnya begitu fantastis bukan hanya dari proporsinya tetapi lebih karena efek yang ditimbulkan pada karakter yang mengalaminya. Efek yang luar biasa itu kemudian diikuti oleh ‘keretakan, ketakseimbangan dan celah’ dalam diri si tokoh sehingga mendorongnya untuk melakukan tindakan berlebihan. Salah satu contoh adalah “Nimrec”, di mana Putri sebagai karakter sentral begitu terpengaruh kematian mendadak ayahnya. Di dalam karya-karya Gothic, figur ayah mempunyai posisi yang sangat penting karena ia dianggap sebagai pemegang kekuasaan dan simbol keteraturan. Terganggunya atau absennya seorang ayah akan membawa kekacauan bagi keluarga yang ditinggalkan, termasuk keturunannya. Tampaknya kekacauan ini yang mendorong Putri yang baru saja menyadari bahwa figur ayah adalah ‘pelindung, guru, dan sahabat’ selain ‘pencari nafkah dan pejantan bagi ibunya’ (hal. 106) untuk bunuh diri dengan cara tragis di akhir cerita. Walaupun secara sekilas cerita ini tak banyak memberi penjelasan tentang apa sebenarnya yang mengacaukan pikiran Putri, pembaca seolah dipaksa untuk setidaknya mencoba mempercayai si cermin atau Nimrec sebagai narator untuk membuktikan bahwa kematian ayahnya memang menyebabkan masalah dalam kepribadiannya. Sudut pandang yang tidak biasa ini juga menghambat akses pembaca untuk benar-benar masuk ke dalam ‘kepala’ Putri sehingga banyak hal yang sepertinya tersembunyi: seperti menjelajahi bangsal-bangsal gelap yang merahasiakan banyak pintu juga jebakan dalam kastil tua. Teknik naratif yang terlihat sederhana namun sesungguhnya pelik inilah yang menghasilkan pengalaman membaca yang ‘sangat Gothic’ dan menggairahkan buat saya.
Dalam “Royan, Kekasihku” Kef masih mengeksplorasi masalah kehilangan cinta yang berujung pada gangguan psikologis tokoh utamanya. Setelah meninggalnya Royan, Arleti diceritakan ‘mengadopsi’ kepribadian kekasihnya itu ke dalam dirinya. Untuk memperoleh pengertian akan kasus semacam ini, ada baiknya kita menoleh pada seperangkat teori psikoanalisa yang memang merupakan salah satu pisau efektif untuk membedah karya Gothic. Pada tahun 1917 Freud menerbitkan esai berjudul “Mourning and Melancholia” yang membuka jalan bagi psikoanalis lainnya untuk meninjau lebih jauh perkara tersebut. Secara garis besar, teori-teori mengenai mourning atau perkabungan dan melancholia atau kesedihan berkepanjangan memisahkan reaksi duka yang masih dalam batas kewajaran dengan yang bersifat patologis, di mana batas di antara keduanya seringkali kabur sehingga mudah terlanggar. Mengenai ekses dari kesedihan yang berkepanjangan, dipaparkan bahwa salah satu contoh reaksi yang menyimpang adalah terbelahnya diri seseorang yang ditinggalkan sehingga ia pun berkelakuan layaknya orang yang telah meninggalkannya. Lewat psikoanalisa kita memang akhirnya akan kembali menemukan bahwa Gothic menunjukkan lapisan tersembunyi dalam diri manusia yang begitu rentan sehingga begitu mudah baginya untuk jatuh dalam ‘keretakan’. Kerentanan terhadap ‘keretakan’ inilah yang sering digarap dalam karya-karya Gothic, termasuk dalam tulisan Kef ini.
Di dalam kisah-kisah lain Kef membaurkan bentuk ekses dan pelanggaran dengan begitu rapi dan tidak kalah menarik. “Romantic Agony”, “Anggur, Pikiran, dan Cinta” dan “Hari Terakhir Mencintaimu”, misalnya. Tokoh utama perempuan dalam cerita yang pertama dimabuk oleh cinta buta sementara tokoh utama lelaki dalam cerita kedua dimabuk secara literal oleh alkohol. Sementara dalam cerita ketiga, tokoh utama lelaki terserang ketakutan berlebihan terhadap cinta dan kehilangan cinta. Akibatnya mereka menjadi begitu rapuh untuk melangkahi hukum serta norma yang beroperasi dalam masyarakat dengan membunuh atau bercinta dengan orang yang bukan pasangan resminya. Pengaruh masa lalu yang masih begitu besar di masa sekarang—sebuah tema yang berulangkali muncul dalam karya Gothic—sehingga membuahkan sebuah bentuk pelanggaran muncul di “Rumah Senja”. Protagonis perempuan dalam cerita ini dikisahkan bertemu kembali dengan mantan kekasihnya tanpa sepengetahuan kekasihnya yang sekarang sehingga ia tersiksa oleh rahasianya sendiri. Lewat kisah-kisah tersebut Kef tampaknya ingin menunjukkan bahwa ekses dan pelanggaran dalam hal cinta berpotensi menimbulkan kelabilan dalam diri manusia, bahkan membawa bencana terhadap orang-orang di sekitarnya.
Lebih jauh lagi, karena konsep ekses dan terutama pelanggaran ini membuka kemungkinan bagi karya-karya Gothic untuk membongkar, mempertanyakan, bahkan menekankan batasan dan nilai yang berlaku dalam masyarakat, sepertinya alamiah saja jika banyak karya yang menyentuh isu gender. “Bercinta di Bawah Bulan” merupakan salah satu tulisan Kef yang begitu pekat mempermainkan imajinasi pembaca soal relasi seksual antara laki-laki dan perempuan. Hubungan seks pertama yang terjadi pada sepasang perawan di pinggir laut di bawah cahaya purnama digambarkan sebagai sesuatu yang tidak hanya indah tetapi juga mencekam dan banjir darah. Klimaks cerita, sekaligus klimaks keintiman pasangan tersebut, hadir ketika tokoh perempuan berubah menjadi semacam serigala dengan kuku panjang lalu memiliki keliaran yang secara literal mencabik-cabik tubuh si narator lelaki. Di sini pembaca seolah dihadapkan pada gambaran patriarki mengenai perempuan yang menyadari seksualitasnya: menawan namun berbahaya, menggairahkan juga mematikan, cantik tetapi monster pembunuh. Oleh karena itu, perempuan yang ideal adalah perempuan yang pasif dan tidak memiliki gairah seksual. Namun, di tangan Kef gambaran semacam ini tampaknya mengalami sedikit pergeseran karena diceritakan bahwa tokoh laki-laki memandang perempuan sebagai seseorang yang ‘akan kucintai sepanjang hidup’ (hal. 50). Sepertinya perempuan ideal di mata laki-laki dalam cerita ini justru perempuan yang aktif secara seksual. Kemudian, dalam “Gerimis Memintaku Kembali ke Rumahmu”, imajinasi narator lelaki mengenai perempuan idamannya sebagai sosok yang santun dan berpekerti, sesuai dengan gambaran ideal patriarki tadi, runtuh ketika ia mendapatinya ‘duduk di atas pusar seorang lelaki tampan yang telentang di atas sofa, masing-masing nyaris telanjang’; akan tetapi, si narator sepertinya tak terlalu berkeberatan sebab ia tetap ‘terpesona oleh tarian cahaya pada kedua bola matamu’ (hal. 102). Catatan singkat ini tentu tak memadai bagi saya untuk dapat menyimpulkan apakah Kef benar-benar sedang mempertanyakan atau justru mengukuhkan pandangan patriarki. Namun, saya pikir, ini cukup untuk mengatakan bahwa naratif Kef ternyata sesuai dengan tradisi Gothic yang kompleks dan bekerja secara rumit untuk menjelajahi permasalahan manusia berkaitan dengan nilai-nilai yang mengelilinginya.
Selanjutnya, sudut pandang yang berselang-seling antara perempuan, laki-laki, juga narator yang serba tahu dalam Bercinta di Bawah Bulan turut meghadirkan kecemasan khas Gothic. Skema yang demikian akhirnya mengaburkan pula hubungan antara penulis, narator dan pembacanya sehingga meninggalkan kesan bahwa tak ada yang dapat luput dari cinta, sisi terang apalagi gelapnya. Usahanya memaksa pembaca mengidentifikasi diri dengan protagonis-protagonis yang rapuh juga menyebabkan pembaca seolah-olah mengalami sendiri kejadian-kejadian di dalam kisah-kisahnya dan dihadapkan langsung pada kelabilan dan ketakseimbangan putusan-putusan mereka. Kengerian yang kemudian menjadi ujung peristiwa-peristiwa tersebut lalu terasa begitu nyata. Rupanya Kef ingin mengingatkan pembacanya bahwa cinta dapat merasuki siapa saja, mengukuhkan bahkan membongkar apapun. Perasaan yang berasosiasi dengan cinta tak serta-merta jatuh pada pemisahan antara perasaan lelaki maupun perempuan, tetapi bisa melintasi kedua gender tersebut dengan begitu bebas dan cair. Di dalam cinta, perempuan dan lelaki sama rentan untuk menjadi predator maupun korban; sejajar dalam menikmati sensasinya; juga berkesempatan sama besar untuk terjebak dalam melankolia berkepanjangan. Inilah efek kejut yang biasa disajikan dalam karya-karya Gothic dan rupanya dimanfaatkan dengan baik oleh Kef. Alhasil, kisah-kisah Kef menyisakan gelisah bahkan setelah proses baca tuntas.
Saya teringat deskripsi Charles Dickens tentang London di malam hari dalam Oliver Twist. Kota tersebut digambarkan memiliki dua wajah sekaligus, bayi yang lelap dan tengkorak yang menyeringai, sebagai perumpamaan dunia kaya dan miskin, terang dan gelap, yang saling silang serta tumpang tindih di dalamnya. Ketakutan terbesar masyarakat yang sistem sosialnya menghendaki batasan jelas antara kelas, gender, kedudukan moral adalah terangkat dan terlanggarnya batas tersebut sehingga satu sisi dapat mengkontaminasi sisi lainnya. Piranti Gothic, lewat plotnya yang rumit dan penuh suspens, memang mempunyai kapasitas untuk menggambarkan situasi demikian dengan begitu efektif, dan ini digunakan dengan baik oleh Kef di Bercinta di Bawah Bulan ketika ia memperbincangkan hubungan antarmanusia, khususnya dalam ruang yang disebut cinta. Walaupun perjalanannya tak selalu lancar, cinta ternyata dapat mendorong manusia untuk menembus segala batasan yang ada. Kekuatan yang sungguh dahsyat, dan di saat bersamaan menghasilkan sensasi yang mengerikan walaupun seringkali menyenangkan. Agaknya seperti sensasi bercinta di bawah bulan dengan kekasih jadi-jadian: menggelorakan gairah, namun berdarah-darah.




